21 March 2013

Yoyoh Yusroh: Mutiara Yang Telah Tiada

In The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful

Assalamualaikum,

All praise is due to Allah, the Lord and Cherisher of the Universe. May His peace and blessings be upon our beloved prophet, Muhammad (PBUH), his household, companions and all followers of the right guidance till the Day of Judgment.

Dalam sebulan dua ni banyak sungguh saya borong buku. Entry yang lepas pun pasal buku jugak.huhu… Insyaallah kali ni nak share buku tentang seorang peribadi yang pada saya cukup memberi inspirasi kepada wanita muslim yang bekerjaya tetapi dalam masa yang sama juga seorang isteri dan ibu.

   

20130303_184637

    

Yoyoh Yusroh.

Semasa melihat tajuk buku tersebut saya tertanya-tanya juga apakah kandungannya. Kali pertama saya mendengar nama tersebut. Kebiasaan saya, jika beli buku online, saya akan google dulu, mencari-cari apakah isi kandungannya. Memandangkan bajet bulanan tidaklah banyak jadi saya cuba untuk dapatkan yang terbaik buat saya dulu. Doakan semoga Allah berikan rezeki yang lebih buat saya. Semoga saya mampu menambah lebih banyak koleksi buku yang berkualiti buat makanan tambahan ilmu saya.

Buku-buku di atas merupakan tribute kepada Allahyarhamah Yoyoh Yusroh yang meninggal dunia dalam kecelakaan di Cirebon sesudah menghadiri acara wisuda putranya di UGM. Berikut merupakan sedikit sebanyak peribadi beliau semasa hayatnya:

“ Kebiasaan Yoyoh Yusroh yang suka menolong, meninggalkan rasa kehilangan yang besar dalam jiwa banyak orang. Dan selayaknya, para dai –khususnya daiyah- meneladani sifat itu. Salah seorang yang kehilangan adalah temannya sesama anggota DPR. Meskipun berasal dari fraksi yang berbeda, Yoyoh Yusroh merelakan waktunya untuk menemani dan “mengobati” ibu ini dalam sebuah perjalanan tugas kedinasan. Ketulusannya menjadi sahabat dan merawat selama ibu ini sakit, meninggalkan kesan yang mendalam baginya. Bukan hanya ibu ini akhirnya menjadi lebih dekat dengan Yoyoh Yusroh seorang, namun ia juga menjadi lebih dekat dengan dakwah. Begitulah. Ketika pesona Islam bertemu dengan pesona muslim, maka orang yang berada di dekatnya akan merasakan betapa indahnya dakwah. Mereka mendapati bahwa dakwah bukan hanya bahasa langit, namun juga kepedulian dan solusi yang membumi.


Yoyoh Yusroh juga seorang ibu yang luar biasa. Suatu hari ketika ia mengisi sebuah seminar, ia membawa serta anaknya yang kedu belas. Saat itu anaknya masih berjumlah dua belas. Seorang panitia bertanya, “Ini putranya yang terakhir ya, Bu?”. “Bukan”, jawab Yoyoh Yusroh, “ini yang kedua belas.” Subhaanallah… ternyata paradigma dan keinginannya menjadi ibu membuatnya tidak membatasi bahwa putra saat ini adalah putra terakhir. Dan benar, setelah itu putra ketiga belas beliau lahir.


Di masa sekarang, banyak ibu yang merasa sangat direpotkan oleh kehadiran anak. Jangankan dua belas atau tiga belas anak, satu atau dua anak saja sudah membuat banyak ibu kewalahan dan hari-harinya penuh keluhan. Bahkan ada juga ibu yang baru melahirkan satu orang anak sudah merasa amat tersiksa lalu ia tidak mau lagi melahirkan untuk yang kedua. “Melahirkannya sakit setengah mati, membesarkannya merepotkan sekali,” itu alasannya. Namun tidak demikian dengan ibu yang satu ini. Yoyoh Yusroh bukan saja “menikmati” melahirkan buah hatinya, namun juga dengan penuh cinta membesarkan dan mendidik mereka. Tiga belas anak yang tumbuh menjadi shalih-shalihah adalah prestasi besar yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.


Banyak perempuan yang berhenti belajar , membaca dan meningkatkan kualitas diri dengan alasan waktunya sudah habis untuk mengasuh dan membesarkan anak. Padahal anaknya hanya dua atau tiga orang. Yoyoh Yusroh, dengan belasan anak tetap memiliki semangat belajar yang luar biasa dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri. Ketika bertemu Yusuf Qardhawi, Yoyoh Yusroh ditanya tentang berapa banyak hafalan Qur’an-nya. Menjawab sekian juz, belum sampai seluruhnya dihafal, Yoyoh Yusroh ditegur oleh Yusuf Qardhawi. Ia jadi malu. Namun bersamaan dengan itu, semangatnya untuk menghafalkan Al-Qur’an juga meningkatkan tarbiyah dzatiyah menjadi semakin membara.”

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2011/05/yoyoh-yusroh-sang-permata-itu-telah.html

 

20130308_141415

Saya masih dalam proses untuk menghabiskan buku ini.

 

Semoga Allah berikan kekuatan buat saya untuk terus teguh berada di jalannya walau sudah bergelar isteri dan bakal menjadi ibu di masa depan. Ameen.

 

With Love,Red heart

NUR

1 comments:

fadzli rt

assalamua'alaikum..

nampak kualaitinya pada intro. walau baru pertama kali menterjemahnya secara luaran..

kebetulan!
lama dah tak berblogging dan kebetulan ada pesta buku antarabangsa. harap2 buku ini masih ada stok nya :)

entri terbaru :

Perbezaan Ikan Keli yang Halal Dimakan dan Haram Dimakan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Site Meter